Just another Student Blogs weblog
Pemantau Tsunami Tidak Berfungsi

Source: Kompas 3-9-2009

Kamis, 3 September 2009 | 03:37 WIB

Jakarta, Kompas – Sejumlah teknologi menggunakan buoy pemantau tsunami di laut yang dipasang pascagempa dan tsunami di Aceh akhir 2004 lalu hingga sekarang tidak berfungsi. Buoy itu rusak terkena badai dan sebagian lagi kelengkapan peralatannya hilang, dikhawatirkan karena dicuri.

”Peringatan dini terhadap tsunami akibat gempa bumi sampai saat ini hanya berdasarkan data kegempaan, bukan pemantauan perilaku laut,” kata Kepala Program Buoy Tsunami Indonesia Ridwan Djamaluddin, Rabu (2/9) di Jakarta.

Gempa bumi berkekuatan 7,3 pada skala Richter (SR), Rabu (2/9), terjadi pada pukul 14.55, berpusat di kedalaman 30 kilometer pada lokasi 142 kilometer sebelah barat daya Tasikmalaya, Jawa Barat. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyampaikan peringatan dini tsunami, tetapi berselang satu jam kemudian dinyatakan tidak ada tsunami.

Secara terpisah, Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Fauzi mengatakan, tsunami dalam skala kecil terpantau di tiga lokasi pantai di Jawa Barat. Tsunami itu merupakan dampak gempa bumi yang terjadi.

”Tsunami yang terpantau di Pameungpeuk dengan ketinggian 1 meter, di Pangandaran 20 sentimeter, dan di Palabuhan Ratu 15 sentimeter,” ujar Fauzi.

Data kegempaan


Selama pemantau tsunami di laut belum berfungsi, penentuan tsunami hanya berdasarkan data kegempaan.

Prasyarat itu meliputi kekuatan gempa di atas 6,4 skala Richter, pusat gempa lebih dangkal dari 60-70 kilometer di bawah laut, ada kecukupan kolom air, dan gerakan patahan bumi vertikal,

Menurut Ridwan, data perilaku laut yang semestinya dapat segera dikirimkan sinyalnya dari buoy (pelampung) itu adalah panjang gelombang laut yang ekstrem. Data tersebut dapat diperoleh seketika di stasiun pemantau di darat. Data lalu dapat dimanfaatkan sebagai pertimbangan peringatan dini tsunami oleh BMKG.

”Peralatan buoy tsunami sudah dipasang di selatan Selat Sunda. Mestinya sudah dapat memberikan informasi potensi tsunami dari data perilaku laut. Namun, buoy di sana rusak karena terkena badai,” kata Ridwan.

Sebanyak empat buoy tsunami bantuan Jerman juga dipasang di sebelah barat Sumatera. Menurut Ridwan, data dari buoy Jerman itu sekarang belum bisa dimanfaatkan Indonesia, baru Jerman yang bisa mengaksesnya.

Mengenai sejumlah teknologi pemantau tsunami di laut yang tidak berfungsi lainnya, antara lain dua buoy tsunami bantuan Amerika Serikat yang dipasang di selatan Selat Bali dan sebelah barat Sumatera. Kondisi buoy ini sebagian alatnya hilang, dikhawatirkan dicuri. (NAW)

www.unesco.or.id/…/Pemantau%20Tsunami%20Tidak%20Berfungsi.%20Kompas%203-9-2009.doc

luislusi @ 2:31 pm
Banyak Kerangka Jenazah Ditemukan di Aceh Jaya
Filed under: Bencana Alam

Pasca Tsunami

Banda Aceh, 18 Juni 2005 12:30

Belasan kerangka jenazah korban bencana tsunami ditemukan lagi baru-baru ini oleh masyarakat ketika mereka membersihkan puing-puing kayu di wilayah Kecamatan Sampoinit, Kabupaten Aceh Jaya.

“Sebagian jenazah korban masih utuh dan mudah dikenali karena masih terbalut kulit, namun tubuhnya sudah tipis serta rambutnya sudah terlepas dari batok kepala,” kata M. Juned, salah seorang warga Desa Kuala Ligan di Banda Aceh, Sabtu.

Jenazah tersebut ditemukan di wilayah Desa Kuala Ligan, Panton Mane, Padang Kameng, Babah Nipah dan Desa Suak Eumpak ketika mereka selama satu pekan terakhir ini melakukan kegiatan pembersihan puing-puing kayu yang dibawa tsunami, 26 Desember 2004.

“Semua desa itu berada pada ruas jalan raya Banda Aceh-Meulaboh, ibukota Aceh Barat, termasuk wilayah daerah paling parah di terjang bencana tsunami, akhir tahun lalu serta tanpa satu unit bangunan rumah yang tersisa,” katanya.

Kelima desa yang berada di dekat laut itu kini sudah sepi seperti daerah tidak bertuan serta tidak ada satu pun bangunan yang tersisa , sementara mereka yang selamat dari bencana alam dahsyat ini mengungsi ke desa lainnya di daerah tersebut.

Menurut Juned, mereka kini mengungsi ke desa lainnya di wilayah itu karena jalan menunuju desa ini sudah rusak diterjang tsunami, sehingga kegiatan pencarian jenazah pasca bencana tsunami tidak dilakukan secara efektif.

“Setelah bencana tersebut, boleh dikatakan hampir tidak ada orang yang mencari jenazah,” katanya.

Kenyataan itu terlihat, dari salah seorang jenazah perempuan setengah baya ditemukan tidak jauh dari jalan raya terbaring diatas selembar kertas plastik masih lengkap dengan pakaiannya serta disampingnya terletak kartu tanda penduduk (KTP) miliknya.

“Dari bukti itu dapat disimpulkan bahwa korban meninggal diperkirakan akibat kelaparan karena tidak ada makanan, setelah terseret arus tsunami tanpa mendapat bantuan orang lain,” katanya.

Menurut Juned, kalau dilihat dari wajah jenazah tersebut korban dipastikan meninggal bukan saat diterjang bencana tsunami, tetapi akibat terlambat mendapat pertolongan, setelah terbawa arus air bersama puluhan dan bahkan ratusan warga lainnya di Desa Kuala Ligan, sekitar 122 KM sebelah barat Banda Aceh.

Kegiatan pencarian kerangka jenazah korban tsunami di wilayah itu dalam sepekan terakhir ini terus dilakukan dengan melibatkan ratusan warga desa lain di Kecamatan Sampoiniet untuk membersihkan kawasan tersebut dari puing-puing kayu yang berserakan di bekas perkempungan penduduk ini. [EL, Ant]

know.brr.go.id/…/20050618_Banyak_Kerangka_Jenazah_Ditemukan_Aceh_Jaya.doc

luislusi @ 2:24 pm
Bantuan Kecakapan Hidup BRR Aceh Sediakan Dana Pelatihan Rp 30 M

Banda Aceh, 25 Oktober 2005 11:40

Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Aceh dan Nias menyediakan dana Rp 30 miliar bagi pelatihan kecakapan hidup masyarakat korban bencana alam gempa bumi dan tsunami di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD).

“Ini merupakan yang pertama sekali dilaksanakan pelatihan kecakapan hidup (life skill) pasca tsunami yang menggunakan anggaran bersumber dari APBN,” kata Kepala BRR Kuntoro Mangkusubroto di Banda Aceh, Selasa, usai memberi sambutan pada pembukaan acara tersebut.

Pelatihan peningkatan keterampilan masyarakat korban bencana alam tsunami yang berlangsung enam hari itu diberikan keterampilan bidang pembuatan kue tradisional Aceh bagi korban Lampaseh Aceh dan pengolahan ikan bagi warga Ulee Lheu.

Menurut dia, pelatihan kecakapan hidup yang diikuti 60 warga masyarakat Kecamatan Meuraxa Kota Banda Aceh itu terlihat kecil, tapi kegiatan ini harus dilihat jauh ke depan dalam kerangka peningkatan kesejahteraan masyarakat.

“Ini merupakan yang pertama kita laksanakan di Desa Lampaseh Aceh, dan nantinya sesuai dana sebesar itu secara bertahap akan dilatih sebanyak 2.000 korban bencana alam tsunami di seluruh Aceh,” kata Kuntoro.

Kepada para peserta akan diberikan modal usaha yang akan masuk dalam kategori kelembagaan mikro. Modal usaha diharapkan mampu menggerakkan denyut ekonomi masyarakat yang dimulai korban terutama kaum ibu di daerah terkena tsunami.

Selain itu, tambahnya, pihaknya juga berupaya menyediakan “balee inong (balai perempuan)” di semua desa di Aceh. Balai ini dimaksudkan dijadikan sebagai tempat untuk menambah keterampilan dan pengetahuan bagi kaum perempuan Aceh.

Para peserta yang mendapat kesempatan mengikuti pelatihan ini akan dibina selama enam bulan dan diharapkan dalam jangka waktu tersebut sudah mampu menghasilkan produk berkualitas dan dapat dipasarkan kepada masyarakat konsumen.

Sementara Ketua Dekranas Ny. Meutia Azwar Abubakar mengatakan, pelatihan peningkatan bakat di bidang pembuatan kue tradisional itu dinilai penting mengingat banyak “pakar” pembuatan kue khas Aceh termasuk korban bencana alam tsunami.

Bencana alam gempa bumi dan tsunami yang melanda sebagian besar wilayah di provinsi ujung paling barat di Indonesia pada 26 Desember 2004 mengakibatkan ratusan jiwa masyarakat tercatat meninggal dunia/hilang, termasuk “pakar” kue khas Aceh.

“Kaum ibu yang sebelumnya mampu membuat kue khas Aceh dan bahkan dengan modifikasi menarik kini telah tiada dan kalaupun ada jumlahnya sangat sedikit. Oleh karena itu, kita harus mencari solusi seperti pelatihan ini,” katanya.

Menurut dia, pelatihan peningkatan keterampilan pembuatan kue tradisional Aceh kepada kaum perempuan desa Lampaseh Aceh diharapkan mampu memberi pengetahuan dan melahirkan kue-kue khas Aceh modifikasi di masa mendatang.

“Kami berupaya melatih kaum ibu untuk meningkatkan keterampilan di bidang pembuatan kue khas Aceh dan pengolahan ikan. Ini saya kira sangat penting dalam usaha memenuhi permintaan pasar di Aceh,” katanya sambil mengatakan, pihaknya juga siap memasarkan hasil produk mereka. [TMA, Ant]


www.itb.ac.id/news/381.xhtml


luislusi @ 2:17 pm
Deptan Siapkan Program Penaggulangan Akibat Bencana Alam Aceh dan Sumatra Utara

Departemen Pertanian telah mempersiapkan serangkaian program dan kegiatan dalam penanggulangan akibat bencana alam tsunami di Propinsi Aceh dan Sumatera Utara. Dalam kesempatan pertama Deptan telah membentuk Tim Penanggulangan Bencana Alam Nasional dan membentuk posko penanggulangan bencana di Banda Aceh dan di Medan serta Jakarta sebagai pusat kendalinya. Dalam pelaksanaannya tim tersebut berkoordinasi dengan Bakornas Penanggulangan Bencana di tingkat pusat dan Satkorlak di tingkat daerah. Sementara itu dalam upaya membantu mengurangi beban derita masyarakat yang terkena bencana, Departemen Pertanian telah membuka akses Bantuan Peduli Aceh melalui rekening Bank Mandiri Nomor 127 00 4346 28 2 atas nama Tim penanggulangan Bencana Aceh-Sumatera Utara Departemen Pertanian.  Dana yang telah terkumpul sampai saat ini sebesar Rp 1.174.000.000,- (satu milyar seratus tujuh puluh empat juta rupiah)   yang telah dan sedang disalurkan secara bertahap.

Berdasarkan hasil identifikasi di lapangan yang dilakukan oleh Tim Penanggulangan Bencana Alam yang dikirim ke Aceh secara bertahap, telah di tetapkan prioritas langkah-langkah penanganan yang perlu segera dilaksanakan antara lain : 1) membantu masyarakat umum yang terkena musibah sesuai dengan kemampuan, 2) membantu petugas lingkup pertanian dan keluarganya yang terkena musibah, 3) membantu dinas/UPT/Lembaga Pertanian agar mampu kembali menjalankan fungsi penyelenggaraan pemerintahan di bidang pertanian. Mensikapi perkembangan dilapangan maka direncanakan program bantuan bencana dilakukan dalam tiga tahap yaitu 1) Program Tanggap Darurat, 2) Program Rehabilitasi serta, 3) Program Pemulihan (2006-2009).

Pada tahap Tanggap Darurat direncanakan kegiatan (telah dimulai sejak tgl 28 Desember 2004) antara lain :

1)       Identifikasi korban petugas pertanian dan keluarganya,

2)       Pemberian bantuan pangan dan obat-obatan pada sebagian masyarakat,

3)       Pembentukan POSKO di berbagai tingkat (Jakarta, Medan, Banda Aceh)

4)       Inventarisasi gedung/kantor;sarana kerja;prasarana yang rusak

5)       Inventarisasi kerusakan sumberdaya pertanian

6)       Pemberian santunan dan biaya hidup kepada pegawai pertanian

7)       Pemberian bantuan sarana/alat rumah tangga/pangan/obat-obatan

8)       Rehabilitasi gedung dan sarana kantor Dinas/Badan/UPT (pembersihan; perbaikan; pengadaan sarana kantor)

9)       Bantuan penyemprotan antisipasi wabah penyakit

10)   Pendampingan penyelenggaraan pemerintahan di bidang pertanian (bantuan tenaga pegawai; bimbingan mental)

Dalam rencana/program Rehabilitasi akan dilaksanakan kegiatan sebagai berikut :

1)      Pembangunan kantor (yang rusak berat/hancur)

2)      Rehabilitasi kantor, unit pelayanan pertanian dan rumah dinas,

3)      Pengadaan sarana kerja dan mobilitas

4)      Rehabilitasi infrastruktur sumberdaya pertanian dan program padat karya

5)      Bantuan sarana produksi dan permodalan bagi para petani

6)      Mobilisasi tenaga pegawai pertanian (antar daerah) serta

7)      Bimbingan dan pendampingan penyelenggaraan pemerintahan dibidang pertanian

Dalam program Pemulihan jangka menegah dan panjang, kegiatan akan difokuskan pada 1) optimalisasi produksi dan produktifitas pertanian; 2) Fasilitasi; rehabilitasi sumberdaya pertanian dan 3) penyediaan sarana permodalan bagi para petani serta program penunjangnya.

Data-data tentang jumlah pegawai pertanian dan keluarganya yang meninggal, luka berat, hilang masih dalam proses identifikasi oleh Petugas Pusat yang ditempatkan dilokasi bencana secara bergantian, termasuk aset-aset perkantoran, rumah dinas, sarana pelayanan pertanian dan sumberdaya pertanian. Diperkirakan dalam bulan Januari data yang lebih detil akan dapat diperoleh dan menjadi bahan penyempurnaan program penanggulangan. Sumber pembiayaan untuk mendukung program tersebut direncanakan berasal dari 1) APBN Departemen Pertanian dan atau APBN Khusus Bencana Alam, 2) Bantuan masyarakat pertanian serta 3) Bantuan Pegawai pertanian di seluruh Indonesia.

Jakarta, 4 Januari 2005

Departemen Pertanian

www.deptan.go.id/pengumuman/…/PRES%20RELEASE%20TSUNAMI.doc

luislusi @ 2:13 pm
Mewaspadai Banjir dan Tanah longsor

Oleh : Prof.Dr.Ir.H. Suntoro Wongso Atmojo. MS.

Dekan Fakultas Pertanian UNS. Solo.

(Sekjen Forum Komunikasi Perguruan Tinggi Pertanian Indonesia)

Banjir bandang disebabkan oleh dua kemungkinan yaitu karena rusaknya lingkungan hulu dan karena faktor geografis setempat. Bencana longsor lebih disebabkan oleh faktor alam, namun kerusakan lingkungan dapat memicunya. Sehingga pengelolaan lingkungan daerah hulu perlu dilakukan.

Curah hujan yang tinggi semalam suntuk Selasa lalu yang merata di berbagai daerah ternyata membawa bencana bagi daerah daerah seperti Solo, Karanganyar, Ngawi, Madiun, Wonogiri, Purwodadi dan daerah-daerah pantura, akibat banjir dan tanah longsor. Walaupun bencana ini lebih disebabkan oleh faktor alam baik topografi dan curah hujan, namun kerusakan lingkungan yang memicunya. Tidak menutup kemungkinan dampak perubahan iklim global berpengaruh pada pola curah hujan, dimana terjadinya kekeringan panjang dan banjir di saat musim hujan. Curah hujan yang sangat tinggi di atas normal di musim penghujan akan berdampak pada terjadinya banjir, erosi dan tanah longsor.

Sering kita terlambat dalam mengatasi masalah banjir, seharusnyalah masalah banjir diantisipasi jauh sebelum terjadi, kita baru sadar dan semangat membicarakannya tatkala musibah itu terjadi. Banjir bandang terjadi dimana-mana, merupakan peringatan bagi kita semua tentang arti pentingnya pengelolaan lingkungan Daerah Aliran Sungai (DAS). Konsep satu sungai satu perencanaan dan pengelolaan, harus terus dilakukan secara terpadu dan berkesinambungan. Untuk itu diperlukan semangat kebersamaan dalam pengelolaan antar daerah di dalam satu kawasan DAS.

Kerusakan lingkungan karena rusaknya hutan di negeri kita saat ini sangat memprihatinkan. Sebagai contoh, pada tahun 2000 banyak terjadi deforesterisasi atau penebangan hutan liar,  baik di hutan produksi ataupun dihutan rakyat,  yang menyebabkan terjadinya kerusakan hutan dan lahan. Pada tahun 2000, kerusakan hutan dan lahan di Indonesia mencapai 56,98 juta ha, sedangkan tahun 2002 mengindikasikan berkembang menjadi 94,17 juta ha. Terlebih rusaknya hutan ini jika terjadi di daerah hulu, yang akan membawa bencana masyarakat daerah hilir.

Banjir bandang di berbagai wilayah seperti Bengawan Solo, sungai Madiun, Porwodadi, dan di pantura saat ini  dapat disebabkan oleh dua kemungkinan yaitu karena luapan sungai akibat rusaknya hutan daerah hulu sebagi daerah tangkapan air, dan karena faktor geografis (topografi setempat). Terbukanya lahan daerah hulu akan menyebabkan terjadinya erosi berlebih, yang membawa tanah sedimen akan terendapkan di sungai, sehingga daya tampung sungai akan berkurang.

Kasus lain, pemekaran kawasan pemukiman menggunakan daerah rendah (seperti sawah, rawa, embung), sehingga walaupun lahan telah ditimbuni tanah (urug) dan telah diratakan, namun apabila drainasenya tidak diperhitungkan, maka berpotensi terjadi banjir atau genangan menginat topogarfi alamnya yang rendah.

Tanah Longsor


Kejadian longsor tidak semata disebabkan oleh kerusakan lingkungan namun lebih disebabkan oleh faktor alam yaitu curah hujan, jenis tanah dan topografinya berbukit/berlereng. Bencana tanah longsor di Karanganyar yang menelan korban 64 jiwa, merupakan peringatan bagi kita, kejadian duka ini juga terjadi di Ngawi dan Wonogiri. Tanah longsor merupakan ancaman tersendiri bagi daerah dengan kemiringan curam, bahkan mengancam jiwa bagi masyarakat yang ada dibagian bawah. Hujan yang lebat dengan volume tinggi akan yang menjadi penyebab tanah longsor didaerah lereng curam rawan longsor. Tanah longsor sendiri merupakan gejala alam yang terjadi di sekitar kawasan pegunungan. Semakin curam kemiringan lereng satu kawasan, semakin besar kemungkinan terjadi longsor. Semua material bumi pada lereng memiliki sebuah “sudut mengaso atau sudut di mana material ini akan tetap stabil. Bebatuan kering akan tetap di tempatnya hingga kemiringan 30 derajat, akan tetapi tanah yang basah akan mulai meluncur jika sudut lereng lebih dari 2 derajat saja. Sehingga jika curah hujan tinggi dan mengguyur dalam tempo lama, maka menyebabkan tanah menjadi jenuh dengan air, dan jika sudut lereng curam maka  sangat rentan terjadi longsor.

Untuk mengantisipasi terjadinya tanah longsor bisa dilakukan upaya  memperbaiki kawasan lereng secara intensif, misalnya dengan mengokohkan permukaan tanah ke lapisan di bawahnya dengan melakukan pengecoran atau membangun sistem pengairan untuk mengurangi erosi air dan menjaga kestabilan tanah. Pembuatan tanggul atau bir tebing rawan longsor serta penguatan dengan rumput perlu dilakukan, terutama di lokasi-lokasi sarana umum. Memang tanah longsor tidak semata disebabkan oleh rusaknya lingkungan di daerah tersebut, namun rusaknya lingkungan ini akan memicu terjadinya longsor. Lahan miring rawan longsor yang terbuka akan lebih rentan terjadi longsor dan erosi. Curah hujan daerah atasan akan menjadi aliran permukaan (run of), dan akan menyebabkan tanah menjadi jenuh sehingga tanah menjadi tidak stabil lagi dan akan memicu terjadinya longsor.  Sehingga upaya penutupan tanah lahan atasan dengan penghijauan pelu dilakukan terutama di lahan-lahan bagian atas yang rentan longsor. Disamping itu, jenis tanah akan berpengaruh, misalnya tanah berlempung akan lebih rentan terhadap erosi dan longsor.

Perlu adanya pemetaan daerah rawan bencana tanah longsor, untuk menjadi dasar bagi penataan ruang dan langkah-langkah mitigasi, seperti penerapan sistem peringatan dini dan pengkajian tingkat resiko longsor pada kebijakan penataan ruang, dimana pembangunan diarahkan pada kawasan dengan resiko ketidak stabilan longsor rendah atau sangat rendah. Kita sadari penataan ulang tempat penduduk dilahan yang rentan terhadap tanah longsor bukannya hal yang mudah. Walaupun berbagai upaya baik penyuluhan untuk menyadarkan masyarakat yang tinggal didaerah tersebut telah dilakukan maupun penyiapan vasilitas relokasi telah disiapkan.

Sebenarnya perlu adanya penataan ulang penggunaan lahan secara menyeluruh dikawasan lereng gunung. Mengingat banyak penggunaan lahan yang tidak sesuai dengan daya dukung dan upaya konservasi yang masih minim. Misalnya pengunaan lahan-lahan pertanian di lereng lawu. Penggunaan lahan miring hingga sangat miring (lebih dari 45 derajat) untuk tanaman sayur-sayuran. Memang penggunaan semacam ini bisa dilakukan sepanjang upaya konservasinya juga dilakukan, misalnya pembuatan teras, penanaman searah dengan kontur (garis ketinggian).

Walaupun upaya penghijauan dan reboisasi melalui berbagai gerakan seperti GERHAN telah dilakukan, namun pengendalian penebangan hutan pada dasarnya jauh lebih penting. Kita harus sadar menebang pohon satu tidak impas (sebanding) dengan menanam satu pohon. Mengingat untuk menumbuhkan satu pohon hingga besar butuh waktu, energi dan pemeliharaan penuh. Jangan berarti penebangan hutan yang diikuti dengan penanaman pohon sudah selesai. Namun perlu di fikirkan jumlah biomasa tegakan hutan harus diperhitungkan.

suntoro.staff.uns.ac.id/…/14-mewaspadai-banjir-dan-tanah-longsor.doc

luislusi @ 3:32 pm
Kebakaran Hutan Indonesia dan Upaya Penanggulangannya
Filed under: Bencana Alam

Api sebagai alat atau teknologi awal yang dikuasai manusia untuk mengubah lingkungan hidup dan sumberdaya alam dimulai pada pertengahan hingga akhir zaman Paleolitik, 1.400.000-700.000 tahun lalu. Sejak manusia mengenal dan menguasai teknologi api, maka api dianggap sebagai modal dasar bagi perkembangan manusia karena dapat digunakan untuk membuka hutan, meningkatkan kualitas lahan pengembalaan, memburu satwa liar, mengusir satwa liar, berkomunikasi sosial disekitar api unggun dan sebagainya (Soeriaatmadja, 1997).

Analisis terhadap arang dari tanah Kalimantan menunjukkan bahwa hutan telah terbakar secara berkala dimulai, setidaknya sejak 17.500 tahun yang lalu. Kebakaran besar kemungkinan terjadi secara alamiah selama periode iklim yang lebih kering dari iklim saat itu. Namun, manusia juga telah membakar hutan lebih dari 10 ribu tahun yang lalu untuk mempermudah perburuan dan membuka lahan pertanian. Catatan tertulis satu abad yang lalu dan sejarah lisan dari masyarakat yang tinggal di hutan membenarkan bahwa kebakaran hutan bukanlah hal yang baru bagi hutan Indonesia (Schweithelm, J. dan D. Glover,  1999).

Kebakaran hutan besar terpicu pula oleh munculnya fenomena iklim El-Nino seperti kebakaran yang terjadi pada tahun 1987, 1991, 1994 dan 1997 (Kantor Menteri Negara Lingkungan Hidup dan UNDP, 1998). Perkembangan kebakaran tersebut juga memperlihatkan terjadinya perluasan penyebaran lokasi kebakaran yang tidak hanya di Kalimantan Timur, tetapi hampir di seluruh propinsi, serta tidak hanya terjadi di kawasan hutan tetapi juga di lahan non hutan.

Penyebab kebakaran hutan sampai saat ini masih menjadi topik perdebatan, apakah karena alami atau karena kegiatan manusia. Namun berdasarkan beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa penyebab utama kebakaran hutan adalah faktor manusia yang berawal dari kegiatan atau permasalahan sebagai berikut:

  1. Sistem perladangan tradisional dari penduduk setempat yang berpindah-pindah.
  2. Pembukaan hutan oleh para pemegang Hak Pengusahaan Hutan (HPH) untuk insdustri kayu maupun perkebunan kelapa sawit.
  3. Penyebab struktural, yaitu kombinasi antara kemiskinan, kebijakan pembangunan dan tata pemerintahan, sehingga menimbulkan konflik antar hukum adat dan hukum positif negara.

Sedangkan penyebab struktural, umumnya berawal dari  suatu konflik antara para pemilik modal industri perkayuan maupun pertambangan, dengan penduduk asli yang merasa kepemilikan tradisional (adat) mereka atas lahan, hutan dan tanah dikuasai oleh para investor yang diberi pengesahan melalui hukum positif negara. Akibatnya kekesalan masyarakat dilampiaskan dengan melakukan pembakaran demi mempertahankan lahan yang telah mereka miliki secara turun temurun. Disini kemiskinan dan ketidak adilan menjadi pemicu kebakaran hutan dan masyarakat tidak akan mau berpartisipasi untuk memadamkannya.

Kerugian dan Dampak Kebakaran Hutan

1.Areal hutan yang terbakar

Beberapa tahun terakhir kebakaran hutan terjadi hampir setiap tahun, khususnya pada musim kering. Kebakaran yang cukup besar terjadi di Kalimantan Timur yaitu pada tahun 1982/83 dan tahun 1997/98. Pada tahun 1982/83 kebakaran telah menghanguskan hutan sekitar 3,5 juta hektar di Kalimantan Timur dan ini merupakan rekor terbesar kebakaran hutan dunia setelah kebakaran hutan di Brazil yang mencapai 2 juta hektar pada tahun 1963 (Soeriaatmadja, 1997).

Kemudian rekor tersebut dipecahkan lagi oleh kebakaran hutan Indonesia pada tahun 1997/98 yang telah menghanguskan seluas 11,7 juta hektar. Kebakaran terluas terjadi di Kalimantan dengan total lahan terbakar 8,13 juta hektar, disusul Sumatera, Papua Barat, Sulawesi dan Jawa masing-masing 2,07 juta hektar, 1 juta hektar, 400 ribu hektar dan 100 ribu hektar (Tacconi, 2003).

Selanjutnya kebakaran hutan Indonesia terus berlangsung setiap tahun meskipun luas areal yang terbakar dan kerugian yang ditimbulkannya relatif kecil dan umumnya tidak terdokumentasi dengan baik. Data dari Direktotar Jenderal Perlindungan hutan dan Konservasi Alam menunjukkan bahwa kebakaran hutan yang terjadi tiap tahun sejak tahun 1998 hingga tahun 2002 tercatat berkisar antara 3 ribu hektar sampai 515 ribu hektar (Direktotar Jenderal Perlindungan hutan dan Konservasi Alam, 2003).

2. Kerugian yang ditimbulkannya

Kebakaran hutan akhir-akhir ini menjadi perhatian internasional sebagai isu lingkungan dan ekonomi khususnya setelah terjadi kebakaran besar di berbagai belahan dunia tahun 1997/98 yang menghanguskan lahan seluas 25 juta hektar. Kebakaran tahun 1997/98 mengakibatkan degradasi hutan dan deforestasi menelan biaya ekonomi sekitar  US $ 1,6-2,7 milyar dan biaya akibat pencemaran kabut sekitar US $ 674-799 juta. Kerugian yang diderita akibat kebakaran hutan tersebut kemungkinan jauh lebih besar lagi karena perkiraan dampak ekonomi bagi kegiatan bisnis di Indonesia tidak tersedia. Valuasi biaya yang terkait dengan emisi karbon kemungkinan mencapai US $ 2,8 milyar (Tacconi, 2003).

Hasil perhitungan ulang kerugian ekonomi yang dihimpun Tacconi (2003), menunjukkan bahwa kebakaran hutan Indonesia telah menelan kerugian antara US $ 2,84 milayar sampai US $ 4,86 milyar yang meliputi kerugian yang dinilai dengan uang dan kerugian yang tidak dinilai dengan uang. Kerugian tersebut mencakup kerusakan yang terkait dengan kebakaran seperti kayu, kematian pohon, HTI, kebun, bangunan, biaya pengendalian dan sebagainya serta biaya yang terkait dengan kabut asap seperti kesehatan, pariwisata dan transportasi.

3. Dampak Kebakaran Hutan


Kebakaran hutan yang cukup besar seperti yang terjadi pada tahun 1997/98 menimbulkan dampak yang sangat luas disamping kerugian material kayu, non kayu dan hewan. Dampak negatif yang sampai menjadi isu global adalah asap dari hasil pembakaran yang telah melintasi batas negara. Sisa pembakaran selain menimbulkan kabut juga mencemari udara dan meningkatkan gas rumah kaca.

Asap tebal dari kebakaran hutan berdampak negatif karena dapat mengganggu kesehatan masyarakat terutama gangguan saluran pernapasan. Selain itu asap tebal juga mengganggu transportasi khususnya tranportasi udara disamping transportasi darat, sungai, danau, dan laut. Pada saat kebakaran hutan yang cukup besar banyak kasus penerbangan terpaksa ditunda atau dibatalkan. Sementara pada transportasi darat, sungai, danau dan laut terjadi beberapa kasus tabrakan atau kecelakaan yang menyebabkan hilangnya nyawa dan harta benda.

Kerugian karena terganggunya kesehatan masyarakat, penundaan atau pembatalan penerbangan, dan kecelakaan transportasi  di darat, dan di air memang tidak bisa diperhitungkan secara tepat, tetapi dapat dipastikan cukup besar membebani masyarakat dan pelaku bisnis. Dampak kebakaran hutan Indonesia berupa asap tersebut telah melintasi batas negara terutama Singapura, Brunai Darussalam,  Malaysia dan Thailand.

Upaya Pencegahan dan Penanggulangan Kebakaran Hutan

Sejak kebakaran hutan yang cukup besar yang terjadi pada tahun 1982/83 yang kemudian diikuti rentetan kebakaran hutan beberapa tahun berikutnya, sebenarnya telah dilaksanakan beberapa langkah, baik bersifat antisipatif (pencegahan) maupun penanggulangannya.

1. Upaya  Pencegahan

Upaya yang telah dilakukan untuk mencegah kebakaran hutan dilakukan antara lain (Soemarsono, 1997):

(a)          Memantapkan kelembagaan dengan membentuk dengan membentuk Sub Direktorat Kebakaran Hutan dan Lembaga non struktural berupa Pusdalkarhutnas, Pusdalkarhutda dan Satlak serta Brigade-brigade pemadam kebakaran hutan di masing-masing HPH dan HTI;

(b)         Melengkapi perangkat lunak berupa pedoman dan petunjuk teknis pencegahan dan penanggulangan kebakaran hutan;

(c)          Melengkapi perangkat keras  berupa peralatan pencegah dan pemadam kebakaran hutan;

(d)         Melakukan pelatihan pengendalian kebakaran hutan bagi aparat pemerintah, tenaga BUMN dan perusahaan kehutanan serta masyarakat sekitar hutan;

(e)          Kampanye dan penyuluhan melalui berbagai Apel Siaga pengendalian kebakaran hutan;

(f)           Pemberian pembekalan kepada pengusaha (HPH, HTI, perkebunan dan Transmigrasi), Kanwil Dephut, dan jajaran Pemda oleh Menteri Kehutanan dan Menteri Negara Lingkungan Hidup;

(g)          Dalam setiap persetujuan pelepasan kawasan hutan bagi pembangunan non kehutanan, selalu disyaratkan pembukaan hutan tanpa bakar.

2. Upaya Penanggulangan

Disamping melakukan pencegahan, pemerintah juga nelakukan penanggulangan melalui berbagai kegiatan antara lain (Soemarsono, 1997):

(a)          Memberdayakan posko-posko kebakaran hutan di semua tingkat, serta melakukan pembinaan mengenai hal-hal yang harus dilakukan selama siaga I dan II.

(b)         Mobilitas semua sumberdaya (manusia, peralatan & dana) di semua tingkatan, baik di jajaran Departemen Kehutanan maupun instansi lainnya, maupun perusahaan-perusahaan.

(c)          Meningkatkan koordinasi dengan instansi terkait di tingkat pusat melalui PUSDALKARHUTNAS dan di tingkat daerah melalui PUSDALKARHUTDA Tk I dan SATLAK kebakaran hutan dan lahan.

(d)         Meminta bantuan luar negeri untuk memadamkan kebakaran antara lain: pasukan BOMBA dari Malaysia untuk kebakaran di Riau, Jambi, Sumsel dan Kalbar; Bantuan pesawat AT 130 dari Australia dan Herkulis dari USA untuk kebakaran di Lampung; Bantuan masker, obat-obatan dan sebagainya dari negara-negara Asean, Korea Selatan, Cina dan lain-lain.

3. Peningkatan Upaya Pencegahan dan Penanggulangan

Upaya pencegahan dan penanggulangan yang telah dilakukan selama ini ternyata belum memberikan hasil yang optimal dan kebakaran hutan masih terus terjadi pada setiap musim kemarau. Kondisi ini disebabkan oleh berbagai faktor antara lain:

(a)          Kemiskinan dan ketidak adilan bagi masyarakat pinggiran atau dalam kawasan hutan.

(b)         Kesadaran semua lapisan masyarakat terhadap bahaya kebakaran masih rendah.

(c)          Kemampuan aparatur pemerintah khususnya untuk koordinasi, memberikan penyuluhan untuk kesadaran masyarakat, dan melakukan upaya pemadaman kebakaran semak belukar dan hutan masih rendah.

(d)         Upaya pendidikan baik formal maupun informal untuk penanggulangan kebakaran hutan belum memadai.

Hasil identifikasi dari serentetan kebakaran hutan menunjukkan bahwa penyebab utama kebakaran hutan adalah faktor manusia dan faktor yang memicu meluasnya areal kebakaran adalah kegiatan perladangan, pembukaan HTI dan perkebunan serta konflik hukum adat dengan hukum negara, maka untuk meningkatkan efektivitas dan optimasi kegiatan pencegahan dan penanggulangan kebakaran hutan perlu upaya penyelesaian masalah yang terkait dengan faktor-faktor tersebut.

Daftar Pustaka

Danny, W., 2001. Interaksi Ekologi dan Sosial Ekonomi Dengan Kebakaran di Hutan Propinsi Kalimantan Timur, Indonesia. Paper Presentasi pada Pusdiklat Kehutanan. Bogor. 33 hal.

Direktotar Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam. 2003. Kebakaran Hutan Menurut Fungsi Hutan, Lima Tahun Terakhir. Direktotar Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam, Jakarta.

Dove, M.R., 1988. Sistem Perladangan di Indonesia. Suatu studi-kasus dari Kalimantan Barat. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta. 510 hal.

Soemarsono, 1997. Kebakaran Lahan, Semak Belukar dan Hutan di Indonesia (Penyebab, Upaya dan Perspektif Upaya di Masa Depan). Prosiding Simposium: “Dampak Kebakaran Hutan Terhadap Sumberdaya Alam dan Lingkungan”. Tanggal 16 Desember 1997 di Yogyakarta. hal:1-14.

Soeriaatmadja, R.E. 1997. Dampak Kebakaran Hutan Serta Daya Tanggap Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Sumberdaya Alam Terhadapnya. Prosiding Simposium: “Dampak Kebakaran Hutan Terhadap Sumberdaya Alam dan Lingkungan”. Tanggal 16 Desember 1997 di Yogyakarta. hal: 36-39.

Schweithelm, J. dan D. Glover,  1999.  Penyebab dan Dampak Kebakaran. dalam Mahalnya Harga Sebuah Bencana: Kerugian Lingkungan Akibat Kebakaran dan Asap di Indonesia. Editor: D. Glover & T. Jessup

Saharjo dan Husaeni, 1998. East Kalimantan Burns. Wildfire 7(7):19-21.

Tacconi, T., 2003. Kebakaran Hutan di Indonesia, Penyebab, biaya dan implikasi kebijakan. Center for International Forestry Research (CIFOR), Bogor, Indonesia. 22 hal. http://www.cifor.cgiar.org/Publiction/occasional paper no 38 (i)/html

Sumber : http://tumoutou.net/702_07134/71034_9.htm

dishut.jabarprov.go.id/data/arsip/kebakaran%20hutan.doc

luislusi @ 3:14 pm
5 Macam Kekuatan Alam Yang Paling Ekstrem Di Dunia
Filed under: Bencana Alam

(Erabaru.or.id) -  Tornado

Angin Tornado adalah suatu angin pusaran kuat skala menengah dari kumpulan arus kuat awan gelap yang merentang ke permukaan bumi. Saat muncul angin Tornado, kerap disertai dengan satu atau beberapa pilar awan berbentuk corong seperti “belalai gajah” dari dasar awan dan menjulur ke bawah, dengan disertai badai angin dan hujan, petir atau rambun (batu es). Jika Tornado melewati permukaan air, ia dapat menarik air ke atas, dan membentuk tiang air, berdekatan dengan awan. Jika melewati daratan, kerap akan merobohkan rumah, menumbangkan tiang listrik, bahkan menarik manusia, ternak atau benda-benda lain ke dalam pusarannya dan dibawa ketempat lain.

Angin Tornado kerap terjadi pada saat hujan disertai petir di musim panas, dan sebagian besar muncul pada sore hari hingga menjelang malam, skala terjangannya kecil, diameter Tornado umumnya berkisar antara puluhan hingga ratusan meter. Waktu berlangsungnya Tornado biasanya hanya beberapa menit, paling lama juga tidak lebih dari beberapa jam. Terjangan anginnya sangat kuat, kecepatan angin di sekitar pusat dapat mencapai 100-200 meter/jam. Daya perusaknya sangat kuat, tempat yang dilalui angin Tornado, kerap akan membuat pohon-pohon yang dilaluinya tercabut dari akarnya, menjungkir balikan mobil, menghancurkan bangunan dan sebagainya, terkadang menarik pergi manusia.

Sebagian besar Tornado di belahan bumi utara berpusar berlawanan dengan jarum jam, sebaliknya di belahan bumi selatan berpusar searah jarum jam. Mekanisme yang persis terjadinya Tornado saat ini masih dalam penelitian, umumnya mengganggap berhubungan dengan aktivitas atmosfer.

Meski angin Tornado merupakan angin dengan kecepatan angin tertinggi dan perusak terkuat, namun karena jangkauan perusaknya terbatas, maka hanya digolongkan dalam urutan terakhir.

Thypoon (Taufan)

Sistem siklon (pusaran angin) daerah tropis yang agak kuat yang terjadi di perairan laut selatan dan Samudera Pasifik barat, disebut Thypoon. Pada 1989 silam, World Meteorological Organization (WMO) menetapkan, bahwa menurut ukuran rata-rata kekuatan angin terkuat di sekitar pusat pusaran angin daerah tropis, pusaran angin daerah tropis dibagi 4 kategori yaitu tekanan rendah tropis, badai angin tropis, badai angin tropis kuat dan Taufan. Pusaran angin tropis dengan kekuatan angin di bawah 8 tingkat disebut tekanan rendah tropis, 8-9 tingkat disebut badai angin tropis, 10-11 tingkat disebut badai angin tropis kuat, 12 atau di atas 12 tingkat disebut Taufan. Pusaran angin tropis dengan kekuatan angin 12 tingkat atau di atas 12 tingkat di sekitar pusat Australia, samudera pasifik timur, samudera atlantik disebut Thypoon.

Ditinjau dari kejadian rata-rata bertahun-tahun, Thypoon di belahan bumi utara sebagian besar terjadi pada Juli-Oktober, terutama awal Agustus, September paling sering terjadi Thypoon. Namun tahun yang tidak sama bisa berselisih cukup besar.

Meski daya perusak Thypoon tidak sehebat Tornado, namun karena dampaknya luas, maka ia digolongkan dalam urutan ke-4.

Dua pola penyebaran Gelombang gempa: Gelombang bujur (longitudinal) dan gelombang lintang (tranversal). Kecepatan penyebaran gelombang bujur sangat cepat, kekuatan sebarannya sangat kuat, jadi saat terjadi gempa. Pertama lebih dulu mencapai permukaan bumi, saat demikian, orang-orang yang berada di pusat gempa akan merasa terguncang. Selanjutnya gelombang lintang tiba, kemudian bumi mulai goyang, bila parah, akan mengakibatkan rumah roboh, tanah merekah, jalan raya berubah bentuk (retak).

Besar kecilnya gempa umumnya menggunakan tingkat gempa untuk menentukan skalanya. Semakin besar energi yang dilepaskan gempa, maka skalanya juga semakin tinggi. Setiap bertambah satu tingkat, maka energinya juga akan meningkat kurang lebih 30 kali lipat.

Gempa bumi adalah suatu fenomena alam yang umum. Rata-rata setiap hari di atas bumi ada gempa bumi, dan rata-rata terjadi 5 juta kali setiap tahun, di antaranya gempa bumi yang terasa kurang lebih 50.000 kali, sedang gempa keras di atas 7 pada skala richter rata-rata kurang dari 20 kali.

Gempa bumi desktruktif yang kuat dalam waktu singkat dapat merobohkan rumah, menghancurkan jembatan, waduk dan bangunan, yang secara langsung menimbulkan bencana hebat pada manusia. Bahkan dapat mengakibatkan bencana banjir, kebakaran, Tsunami, zat beracun dan dan bencana sekunder lainnya. Karena itu digolongkan dalam urutan ke-3.

Tsunami

Tsunami adalah suatu gelombang laut yang memiliki daya perusak yang kuat. Aktivitas bumi seperti gempa bawah laut, letusan gunung berapi atau tanah longsor dan sebagainya kemungkinan juga akan mengakibatkan Tsunami.

Ketika terjadi gempa, stratum (lapisan) dasar laut mengalami keretakan, sebagian stratum naik atau tenggelam secara tiba-tiba, dan inilah yang mengakibatkan segenap lapisan dari dasar laut hingga ke permukaan mengalami “goncangan” keras. “Goncangan” ini tidak sama dengan gelombang yang biasa kita jumpai. Gelombang laut umumnya hanya naik di sekitar permukaan, tingkat kedalamannya tidak besar. Sedang “goncangan” air laut yang disebabkan gempa adalah fluktuasi segenap sistem air dari permukaan laut ke permukaan, energi yang terkandung didalamnya sangat mengejutkan.

Gelombang dahsyat menjulang tinggi saat Tsunami, ketinggiannya bisa mencapai lebih dari puluhan meter, membentuk “dinding air”. Selain itu, gelombang panjang Tsunami sangat besar, bisa menyebar ribuan km dengan pengikisan energi yang sangat kecil. Karena sebab di atas, jika Tsunami mencapai pesisir pantai, maka “Dinding air” akan menerjang ke daratan, dan menimbulkan ancaman serius terhadap jiwa dan harta benda manusia.

Karena kedahsyatannya yang berdampak luas, sehingga Tsunami di golongkan dalam urutan ke-2.

Letusan gunung berapi

Gunung berapi bukan  gunung yang menyemburkan “api”, yang disemburkannya adalah suatu zat kental bersuhu tinggi, dan zat ini disebut magma (lahar). Saat gunung berapi meletus, pemandangan akan tampak sangat menakjubkan. Karena suhunya yang tinggi, dan mendapat tekanan kuat dari kerak bumi, karena itu, jika bertemu dengan daerah yang agak tipis dan bercelah, maka laharnya akan meluncur ke permukaan dengan deras.

Terjadinya gunung berapi adalah di bawah permukaan bumi, daerah yang semakin dalam, maka suhunya juga akan semakin tinggi, di kedalaman sekitar 20 mil, tingginya suhu cukup melumerkan sebagian besar batuan. Saat batuan lumer akan mengembang dan perlu ruang yang lebih luas. Materi yang dilumerkan oleh suhu tinggi ini akan naik menelusuri celah. Saat tekanan lahar lebih besar dari tekanan batuan di permukaannya, akan meletus dan membentuk sebuah gunung berapi.

Ketika gunung berapi meletus, akan diiringi dengan gemuruh yang menggetarkan bumi, batu-batuan beterbangan, dan lahar yang bukan main panasnya menyembur deras dari bawah tanah, menelan segala yang benda di sekelilingnya, dan dalam sekejab mata, sekitar puluhan mil lingkungan tersebut diselimuti dalam sehamparan kabut tebal. Bahkan terkadang, karena letusan gunung berapi, dapat membuat tanah datar dalam sekejab membentuk sebuah gunung besar yang menjulang tinggi, seperti pembentukan gunung Kilimanjaro di dekat khatulistiwa dan gunung ke tuo pa ke xi. Terkadang, bisa juga dalam sekejab menelan segenap desa dan kota kabupaten, seperti kota Longbei misalnya.

Letusan gunung berapi yang keras bukan saja dapat menghancurkan kota kabupaten, bahkan bisa mengubah sebagian besar atau bahkan iklim sedunia. Karena itu, gunung berapi digolongkan dalam urutan pertama dan memang pantas mendapat sebutan penghancur ekstrem.

panjalunet.files.wordpress.com/…/5-macam-kekuatan-alam-yang-paling-ekstrem-di-dunia.doc

luislusi @ 3:05 pm
Badai Matahari
Filed under: Bencana Alam

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Belum Diperiksa

Langsung ke: navigasi, cari

(Continue reading…)

luislusi @ 2:59 pm
Badai Dan Pengaruhnya Terhadap Cuaca Buruk Di Indonesia
Filed under: Bencana Alam

Drs. Achmad Zakir, AhMG

Mia Khusnul Khotimah, AhMG

Badai Tropis (disebut juga dengan Typhoon atau Tropical Cyclone) adalah pusaran angin kencang dengan diameter Sampai dengan 200 km dan berkecepatan > 200 km/jam serta mempunyai lintasan sejauh 1000 km. Dengan kecepatan angin sedemikian, sebuah badai tropis yang melintasi daratan dapat mengakibatkan kerusakan yang sangat hebat. Tidak hanya pohon-pohon yang tercerabut dari akarnya, bangunan-bangunan permanen tersapu, mobil besar, kereta api, dan benda-benda besar atau berat lainnya terangkat dan beterbangan,  serta menimbulkan ribuan korban jiwa.

Pemberitaan mengenai badai, siklon tropis, dan putting beliung di media massa beberapa bulan terakhir seakan menambah kecemasan baru bagi masyarakat kita yang sudah kenyang diguncang bencana. Apalagi dengan banyaknya informasi simpang siur dan isu-isu yang berkembang seakan-akan terus memupuk kondisi resah dan was-was itu sampai-sampai menimbulkan ketakutan yang berlebihan dalam melakukan aktivitas sehari-hari.

Analisa parameter-parameter cuaca khususnya yang berkaitan dengan badai (mulai dari sifatnya, geraknya, pertumbuhannya, hingga kerusakan yang mungkin ditimbulkannya) memerlukan pemahaman mendalam mengenai ilmu cuaca. Dan memahami ilmu cuaca tidak hanya bersifat liner tapi bersifat multfungsi dan pemahaman secara kesuluruhan sirkulasi udara serta sebab dan akibatnya.

SEKILAS BADAI TROPIS

Meskipun badai itu sendiri sebenarnya sudah ada sejak puluhan bahkan ratusan tahun yang lalu, kata “Badai” di telinga masyarakat Indonesia seolah-olah merupakan fenomena yang baru, aneh dan seolah-olah sama dengan badai yang terjadi di Amerika, Australia, Jepang, china dan Filipina.

Badai Tropis (disebut juga dengan Typhoon atau Hurricane atau Tropical Cyclone) merupakan pusaran angin kencang dengan diameter sampai dengan 200 km/jam, berkecepatan > 200 km serta mempunyai lintasan sejauh 1000 km. Setiap tahunnya badai tumbuh di atas perairan luas di setiap samudera yang ada di permukaan bumi. Ia bisa tumbuh ketika suhu muka laut berada di atas 27 oC dan bisa dideteksi kemungkinan tumbuhnya sejak tiga hari sebelumnya. Karena bertambahnya faktor kekasaran permukaan dan kehilangan sumber kelembabannya, badai akan melemah ketika masuk ke daratan.

INDONESIA BUKAN DAERAH LINTASAN BADAI

Setiap badai bergerak dengan lintasan mereka masing-masing. Meskipun demikian, pada umumnya badai yang terbentuk di sebelah Utara ekuator bergerak ke arah Barat atau Barat Laut, dan badai yang terbentuk di sebelah Selatan ekuator bergerak ke arah Barat atau Barat Daya. Ini berkaitan banyak faktor termasuk di antaranya arah rotasi bumi dan gaya corioli yang ditimbulkannya.

Badai tropis bergerak berbanding lurus dengan besar gaya coriolis bumi. Di sini berlaku fungsi matematik Sinus Ф dengan Ф adalah besar lintang. Karena Indonesia berada di wilayah ekuator dengan sudut lintang rendah, maka harga Sinus yang didapat mendekati nol. Hal tersebut menyebabkan badai tropis apapun tidak mungkin melintasi wilayah Indonesia. Bisa dilihat dari data klimatologi bahwa wilayah tumbuh badai tropis adalah di atas 10o LS pada bulan Desember sampai April dan diatas 10o LU pada bulan September sampai November.

Pada saat musim kemarau, Badai Tropis tumbuh di sekitar perairan sebelah Utara Papua Nugini dan bergerak ke arah Filipina dan Korea/ Jepang. Badai jenis ini termasuk di antaranya Badai Tropis Cimaron (6 Oktober – 6 November 2006), Badai Tropis Durian (26 November – 6 Desember 2006) maupun Badai Tropis Utor (6 – 14 Desember 2006).  Biasanya daerah yang terpengaruh adalah sekitar Sulawesi Utara dan Papua Nugini.

Pada saat musim  hu jan, badai tropis tumbuh di sekitar perairan Laut Timor atau Teluk Carpentaria dan bergerak ke arah Barat atau Barat Daya. Badai jenis ini termasuk di antaranya Badai Tropis Nelson (6 – 7 Februari 2007), Badai Tropis George (3 – 9 Maret 2007) maupun Badai Jacob (7 – 12 Maret 2007). Badai ini mempengaruhi kondisi cuaca di wilayah Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Jawa, Bali dan Sumatera Selatan.

Dari kenyataan itu dapat ditegaskan sekali lagi bahwa Badai tidak selamanya membentuk cuaca buruk di Indonesia, sehingga diperlukan dalam menganalisa dibuutuhkan prakirawan cuaca yang berpengalaman dan qualified, memahami seluk beluk sirkulasi udara, tidak hanya sekedar melihat satelit awan kemudian menyimpulkan adanya bibit badai akan mengancam Indonesia.

KLIMATOLOGI BADAI


Sub Bidang Informasi Meteorologi Publik BMG telah mengumpulkan data badai tropis yang pernah terjadi selama 41 tahun dari tahun 1965 – 2005. Data yang terkumpul khususnya untuk wilayah 0°-50° LS dan 90°-150° BT. Area ini mencakup wilayah Indonesia bagian selatan ekuator, Samudra Hindia bagian Timur, benua Australia, Papua Nugini dan Sebagian Samudera Pasifik Barat.

KESIMPULAN

  1. Badai Tropis harus dilihat dari kecepatan angin kemudian baru tekanan bukan dari citra satelit awan
  2. Dampak tidak langsung dari Badai Tropis ditentukan sirkulasi udara yang sedang terjadi
  3. Cuaca Buruk : hujan lebat, angin kencang dan gelombang tinggi terjadi pada saat sebelum Badai Tropis tumbuh
  4. Badai Tropis tidak melintasi Indonesia, dampak tidak langsungnya tergantung arah gerakan dari badai itu sendiri
  5. Rata-rata jumlah Badai Tropis pada bulan Maret sebanyak  3 kali, sedangakan bulan April antara 1 atau 2 kali

REKOMENDASI :

  1. Tidak memberikan informasi Badai jika tidak dilengkapi dengan data yang akurat
  2. Agar berkordinasi dengan Sub Bidang Informasi Meteorologi Publik
  3. Dalam menganalisa Puting beliung sebaiknya tidak perlu dikaitkan dengan Badai Tropis karena mempunyai skala ruang dan waktu yang sangat berbeda

DAFTAR PUSTAKA

  1. Achmad Zakir. Drs, Hujan lebat, Angin Kencang dan Badai, 2005
  2. Achmad Zakir. Drs, Badai Angin , 2006
  3. Achmad Zakir. Drs, Bagaimana mengetahui adanya Angin Kencang/Putting Beliung, 2006
  4. WMO, TD 1129, 2002

meteo.bmg.go.id/arsippdf/Badai_Tropis.doc



luislusi @ 2:51 pm
Krakatau Purba 535 AD : “A Super Colossal Eruption”
Filed under: Bencana Alam

Senin 27 Agustus 1883 pukul 10.00 WIB adalah saat terakhir penduduk di sekitar Selat Sunda melihat Matahari tengah naik ke puncaknya. Setengah jam kemudian, mereka meregang nyawa diseret gelombang laut setinggi sampai 40 meter…Jumlah seluruhnya 36.417 orang berasal dari 295 kampung di kawasan pantai Banten dan Lampung. Keesokan harinya dan keesokan harinya lagi, penduduk sejauh sampai Jakarta dan Lampung tak melihat lagi Matahari – gelap gulita. Apa yang terjadi di hari yang seperti kiamat itu adalah letusan Gunung Krakatau di Selat Sunda.


Suara letusannya terdengar sampai sejauh 4600 km dan di dengar di kawasan seluas 1/8 permukaan Bumi. Telah banyak tulisan dan film di seluruh dunia dibuat tentang kedahsyatan letusan Krakatau ini. University of North Dakota, Volcanic Explosivity Index (VEI) mencantumkan dua gunungapi di seluruh dunia yang letusannya paling hebat dalam sejarah moderen : Krakatau 1883 (VEI : 6) dan Tambora 1815 (VEI : 7). Dua-duanya ada di Indonesia, tak jauh dari kita.

Semoga kita, bangsa Indonesia – terlebih yang menamakan dirinya geologist, mengenal dengan baik dua gunungapi ini.

Krakatau sejak zaman sejarah – moderen.

Saat ini, di Selat Sunda ada Gunung Anak Krakatau (lahir Desember 1927,  44 tahun setelah letusan Krakatau 1883 terjadi), yang dikelilingi tiga pulau : Sertung (Verlaten Eiland, Escher 1919), Rakata Kecil (Lang Eiland, Escher, 1919) dan Rakata. Berdasarkan penelitian geologi, ketiga pulau ini adalah tepi-tepi kawah/kaldera hasil letusan Gunung Krakatau (Purba, 400-an/500-an AD). Escher kemudian melakukan rekonstruksi berdasarkan penelitian geologi batuan2 di ketiga pulau itu dan  karakteristik letusan Krakatau 1883, maka keluarlah evolusi erupsi Krakatau yang menakjubkan (skema evolusi Krakatau dari Escher ini bisa dilihat di buku van Bemmelen, 1949, 1972, atau di semua buku moderen tentang Krakatau).


Gunung api Danan dan Perbuwatan hilang karena erupsi dan runtuh, dan setengah kerucut gunungapi Rakata hilang karena runtuh, membuat cekungan kaldera selebar 7 km sedalam 250 meter. Desember 1927, ANAK KRAKATAU muncul di tengah-tengah kaldera.

Seberapa besar dan kapan erupsi KRAKATAU PURBA terjadi ? Inilah tujuan utama tulisan saya kali ini. Tulisan2 yang berhasil dikumpulkan (buku2 dan paper2 lepas) menunjuk ke dua angka tahun : 416 AD atau 535 AD. Angka 416 AD adalah berasal dari sebuah teks Jawa kuno berjudul ”Pustaka Raja Purwa” yang bila diterjemahkan bertuliskan : ”Ada suara guntur yang menggelegar berasal dari Gunung Batuwara. Ada goncangan Bumi yang menakutkan, kegelapan total, petir dan kilat. Lalu datanglah badai angin dan hujan yang mengerikan dan seluruh badai menggelapkan seluruh dunia. Sebuah banjir besar datang dari Gunung Batuwara dan

mengalir ke timur menuju Gunung Kamula. Ketika air menenggelamkannya, pulau Jawa terpisah menjadi dua, menciptakan pulau Sumatra” . Di tempat lain, seorang bishop Siria, John dari Efesus, menulis sebuah chronicle di antara tahun 535 – 536 AD, “ Ada tanda-tanda dari Matahari, tanda-tanda yang belum pernah dilihat atau dilaporkan sebelumnya. Matahari menjadi gelap, dan kegelapannya berlangsung sampai 18 bulan. Setiap harinya hanya terlihat selama empat jam, itu pun samar-samar. Setiap orang mengatakan bahwa Matahari tak akan pernah mendapatkan terangnya lagi” . Dokumen di Dinasti Cina mencatat : ”suara guntur yang sangat keras terdengar ribuan mil jauhnya ke baratdaya Cina”. (Semua

kutipan diambil dari buku Keys, 1999 : Catastrophe : A Quest for the Origins of the Modern Worls, Ballentine Books, New York).

Kumpul-kumpul data, sana-sini, maka semua data menunjuk ke satu titik di Selat Sunda :

Krakatau ! Adalah letusan KRAKATAU PURBA penyebab semua itu.

Letusan KRAKATAU PURBA begitu dahsyat, sehingga dituduh sebagai penyebab semua abad kegelapan di dunia. Penyakit sampar Bubonic (Bubonic plague) terjadi karena temperatur mendingin. Sampar ini secara signifikan telah mengurangi jumlah penduduk di seluruh dunia. Kota-kota super dunia segera berakhir, abad kejayaan Persia purba berakhir, transmutasi Kerajaan Romawi ke Kerajaan Bizantium terjadi, peradaban South Arabian selesai, berakhirnya rival Katolik terbesar (Arian Crhistianity), runtuhnya peradaban2 purba di Dunia baru –

berakhirnya negara metropolis Teotihuacan, punahnya kota besar Maya Tikal, dan

jatuhnya peradaban Nazca di Amerika Selatan yang penuh teka-teki. Kata Keys (1999), semua peristiwa abad kegelapan dunia ini terjadi karena bencana alam yang mahabesar, yang sangat mengurangi cahaya dan panas Matahari selama 18 bulan, menyebabkan iklim global mendingin.

K. Wohletz, seorang ahli volkanologi di Los Alamos National Laboratory,

mendukung penelitian David Keys, melalui serangkaian simulasi erupsi KRAKATAU PURBA yang terjadi pada abad keenam Masehi tersebut. Artikelnya (Wohletz, 2000 : Were the Dark Ages Triggered by Volcano-Related Climate Changes in the Sixth Century ? – If So, Was Krakatau Volcano the Culprit ? EOS Trans American

Geophys Union 48/81, F1305) menunjukkan simulasi betapa dahsyatnya erupsi ini. Inilah beberapa petikannya. Erupsi sebesar itu telah melontarkan 200 km3 magma (bandingkan dengan Krakatau 1883 yang 18 km3), membuat kawah 40-60 km, letusan hebat terjadi selama 34 jam, tetapi terus terjadi selama 10 hari dengan mass discharge 1 miliar kg/detik. Eruption plume telah membentuk perisai di atmosfer

setebal 20-150 meter, menurunkan temperatur 5-10 derajat selama 10-20 tahun.

Begitulah, Escher dan Verbeek menyelidiki ada erupsi Krakatau Purba;  dokumen2 sejarah dari Indonesia (Pustaka Raja), Siria, dan Cina mencatat sebuah bencana yang sangat dahsyat terjadi di abad 5 atau 6 Masehi; ice cores di Antarktika dan Greenland mencatat jejak2 ion sulfate volkanik dengan umur 535-540 AD, peristiwa2 Abad Kegelapan di seluruh dunia terjadi pada abad ke-6, dan simulasi volkanologi erupsi Krakatau Purba : semuanya kelihatannya bisa saling mendukung

Krakatau tentu punya precautions, ciri-ciri pendahuluan, dari bulan Mei 1883 sudah dilaporkan oleh kapal-kapal yang melintas Selat Sunda bahwa Krakatau aktif, dan mulai terjadi letusan2 kecil, gempa volkanik, dsb. Puncak erupsinya terjadi antara 26-28 Agustus 1883. Letusan Krakatau 1883 cukup terdokumentasi dengan baik, bahkan studinya pun, dua tahun sesudah letusan, 1885, cukup komprehensif (Verbeek, 1885 : Krakatau). Dan, berita letusannya segera tersebar dengan luas ke seluruh dunia sebab pada saat yang sama telegraf baru saja ditemukan Alexander Graham Bell.

Sebuah indentasi tektonik di Jawa dibatasi sesar besar di kedua sisinya, begitu pula Indentasi Lumajang. Di sebelah barat, retakan ini secara volkano-tektonik diisi gunung2 Semeru, Tengger-Bromo complex, sampai “gunung” di timur Pasuruan (Grati maar dan Semongkrong tuff cone). Di sebelah timur, retakan ini diisi oleh Iyang complex (Gn. Argopuro).

Semeru-Tengger complex terdiri atas struktur2 volkanik Pleistocene-Holosen. Urutan kejadian gunungapi2 di retakan ini (ref. van Bemmelen, 1937): (1) Jembangan-Ayek2 -lower-upper Pleistocene), (2) bagian utara Tengger (sub-Recent volcanic cones), (3) Semeru (active volcanic cones), bersamaan dengan Bromo (jadi secara umum Semeru adalah lebih muda daripada sebagian besar Tengger).

Di samping itu, sayap utara Tengger pun telah runtuh membentuk retakan menyabit (crescentic fissure) mencekung ke utara sepanjang 47 km. lengser ke utara menuju Selat Madura yang saat itu sedang aktif tenggelam. Lengseran ini di pantai utara sekitar Pasuruan telah menekan Semongkrong melalui mekanisme updoming sehingga menjadi bukit volcanic tuff.

Sumber : IAGInet

bughibughi.files.wordpress.com/…/krakatau-purba-535-ad-a-super-collosal-eruption.doc

luislusi @ 2:44 pm