Just another Student Blogs weblog
Mewaspadai Banjir dan Tanah longsor

Oleh : Prof.Dr.Ir.H. Suntoro Wongso Atmojo. MS.

Dekan Fakultas Pertanian UNS. Solo.

(Sekjen Forum Komunikasi Perguruan Tinggi Pertanian Indonesia)

Banjir bandang disebabkan oleh dua kemungkinan yaitu karena rusaknya lingkungan hulu dan karena faktor geografis setempat. Bencana longsor lebih disebabkan oleh faktor alam, namun kerusakan lingkungan dapat memicunya. Sehingga pengelolaan lingkungan daerah hulu perlu dilakukan.

Curah hujan yang tinggi semalam suntuk Selasa lalu yang merata di berbagai daerah ternyata membawa bencana bagi daerah daerah seperti Solo, Karanganyar, Ngawi, Madiun, Wonogiri, Purwodadi dan daerah-daerah pantura, akibat banjir dan tanah longsor. Walaupun bencana ini lebih disebabkan oleh faktor alam baik topografi dan curah hujan, namun kerusakan lingkungan yang memicunya. Tidak menutup kemungkinan dampak perubahan iklim global berpengaruh pada pola curah hujan, dimana terjadinya kekeringan panjang dan banjir di saat musim hujan. Curah hujan yang sangat tinggi di atas normal di musim penghujan akan berdampak pada terjadinya banjir, erosi dan tanah longsor.

Sering kita terlambat dalam mengatasi masalah banjir, seharusnyalah masalah banjir diantisipasi jauh sebelum terjadi, kita baru sadar dan semangat membicarakannya tatkala musibah itu terjadi. Banjir bandang terjadi dimana-mana, merupakan peringatan bagi kita semua tentang arti pentingnya pengelolaan lingkungan Daerah Aliran Sungai (DAS). Konsep satu sungai satu perencanaan dan pengelolaan, harus terus dilakukan secara terpadu dan berkesinambungan. Untuk itu diperlukan semangat kebersamaan dalam pengelolaan antar daerah di dalam satu kawasan DAS.

Kerusakan lingkungan karena rusaknya hutan di negeri kita saat ini sangat memprihatinkan. Sebagai contoh, pada tahun 2000 banyak terjadi deforesterisasi atau penebangan hutan liar,  baik di hutan produksi ataupun dihutan rakyat,  yang menyebabkan terjadinya kerusakan hutan dan lahan. Pada tahun 2000, kerusakan hutan dan lahan di Indonesia mencapai 56,98 juta ha, sedangkan tahun 2002 mengindikasikan berkembang menjadi 94,17 juta ha. Terlebih rusaknya hutan ini jika terjadi di daerah hulu, yang akan membawa bencana masyarakat daerah hilir.

Banjir bandang di berbagai wilayah seperti Bengawan Solo, sungai Madiun, Porwodadi, dan di pantura saat ini  dapat disebabkan oleh dua kemungkinan yaitu karena luapan sungai akibat rusaknya hutan daerah hulu sebagi daerah tangkapan air, dan karena faktor geografis (topografi setempat). Terbukanya lahan daerah hulu akan menyebabkan terjadinya erosi berlebih, yang membawa tanah sedimen akan terendapkan di sungai, sehingga daya tampung sungai akan berkurang.

Kasus lain, pemekaran kawasan pemukiman menggunakan daerah rendah (seperti sawah, rawa, embung), sehingga walaupun lahan telah ditimbuni tanah (urug) dan telah diratakan, namun apabila drainasenya tidak diperhitungkan, maka berpotensi terjadi banjir atau genangan menginat topogarfi alamnya yang rendah.

Tanah Longsor


Kejadian longsor tidak semata disebabkan oleh kerusakan lingkungan namun lebih disebabkan oleh faktor alam yaitu curah hujan, jenis tanah dan topografinya berbukit/berlereng. Bencana tanah longsor di Karanganyar yang menelan korban 64 jiwa, merupakan peringatan bagi kita, kejadian duka ini juga terjadi di Ngawi dan Wonogiri. Tanah longsor merupakan ancaman tersendiri bagi daerah dengan kemiringan curam, bahkan mengancam jiwa bagi masyarakat yang ada dibagian bawah. Hujan yang lebat dengan volume tinggi akan yang menjadi penyebab tanah longsor didaerah lereng curam rawan longsor. Tanah longsor sendiri merupakan gejala alam yang terjadi di sekitar kawasan pegunungan. Semakin curam kemiringan lereng satu kawasan, semakin besar kemungkinan terjadi longsor. Semua material bumi pada lereng memiliki sebuah “sudut mengaso atau sudut di mana material ini akan tetap stabil. Bebatuan kering akan tetap di tempatnya hingga kemiringan 30 derajat, akan tetapi tanah yang basah akan mulai meluncur jika sudut lereng lebih dari 2 derajat saja. Sehingga jika curah hujan tinggi dan mengguyur dalam tempo lama, maka menyebabkan tanah menjadi jenuh dengan air, dan jika sudut lereng curam maka  sangat rentan terjadi longsor.

Untuk mengantisipasi terjadinya tanah longsor bisa dilakukan upaya  memperbaiki kawasan lereng secara intensif, misalnya dengan mengokohkan permukaan tanah ke lapisan di bawahnya dengan melakukan pengecoran atau membangun sistem pengairan untuk mengurangi erosi air dan menjaga kestabilan tanah. Pembuatan tanggul atau bir tebing rawan longsor serta penguatan dengan rumput perlu dilakukan, terutama di lokasi-lokasi sarana umum. Memang tanah longsor tidak semata disebabkan oleh rusaknya lingkungan di daerah tersebut, namun rusaknya lingkungan ini akan memicu terjadinya longsor. Lahan miring rawan longsor yang terbuka akan lebih rentan terjadi longsor dan erosi. Curah hujan daerah atasan akan menjadi aliran permukaan (run of), dan akan menyebabkan tanah menjadi jenuh sehingga tanah menjadi tidak stabil lagi dan akan memicu terjadinya longsor.  Sehingga upaya penutupan tanah lahan atasan dengan penghijauan pelu dilakukan terutama di lahan-lahan bagian atas yang rentan longsor. Disamping itu, jenis tanah akan berpengaruh, misalnya tanah berlempung akan lebih rentan terhadap erosi dan longsor.

Perlu adanya pemetaan daerah rawan bencana tanah longsor, untuk menjadi dasar bagi penataan ruang dan langkah-langkah mitigasi, seperti penerapan sistem peringatan dini dan pengkajian tingkat resiko longsor pada kebijakan penataan ruang, dimana pembangunan diarahkan pada kawasan dengan resiko ketidak stabilan longsor rendah atau sangat rendah. Kita sadari penataan ulang tempat penduduk dilahan yang rentan terhadap tanah longsor bukannya hal yang mudah. Walaupun berbagai upaya baik penyuluhan untuk menyadarkan masyarakat yang tinggal didaerah tersebut telah dilakukan maupun penyiapan vasilitas relokasi telah disiapkan.

Sebenarnya perlu adanya penataan ulang penggunaan lahan secara menyeluruh dikawasan lereng gunung. Mengingat banyak penggunaan lahan yang tidak sesuai dengan daya dukung dan upaya konservasi yang masih minim. Misalnya pengunaan lahan-lahan pertanian di lereng lawu. Penggunaan lahan miring hingga sangat miring (lebih dari 45 derajat) untuk tanaman sayur-sayuran. Memang penggunaan semacam ini bisa dilakukan sepanjang upaya konservasinya juga dilakukan, misalnya pembuatan teras, penanaman searah dengan kontur (garis ketinggian).

Walaupun upaya penghijauan dan reboisasi melalui berbagai gerakan seperti GERHAN telah dilakukan, namun pengendalian penebangan hutan pada dasarnya jauh lebih penting. Kita harus sadar menebang pohon satu tidak impas (sebanding) dengan menanam satu pohon. Mengingat untuk menumbuhkan satu pohon hingga besar butuh waktu, energi dan pemeliharaan penuh. Jangan berarti penebangan hutan yang diikuti dengan penanaman pohon sudah selesai. Namun perlu di fikirkan jumlah biomasa tegakan hutan harus diperhitungkan.

suntoro.staff.uns.ac.id/…/14-mewaspadai-banjir-dan-tanah-longsor.doc

luislusi @ 3:32 pm

There is no comment for this post.

Leave a comment

(required)

(required)


Instruction for comments :

You can use these tags:
XHTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>



RSS Feed for comments | TrackBack URI